[Dongeng] Sang Pangeran Katak 14 April 2010
Posted by michelle in Dongeng, Hiburan.Tags: balinese, brothers grimm, pangeran katak
3 comments
Pada suatu senja yang cerah, seorang putri muda mengenakan topi dan sandal bakiaknya, lalu berjalan-jalan sendiri ke arah hutan. Dan saat dia menemukan mata air yang teduh dengan setangkai bunga teratai tertanam kokoh di sana, dia lantas duduk dan beristirahat sejenak memperhatikan keindahan kolam tersebut. Ada sebuah bola emas di tangannya, permainannya sejak kecil, dia selalu melemparkannya ke udara dan menangkapnya lagi ketika bola tersebut jatuh.
Saat itu dia melemparnya terlalu tinggi hingga dia tidak bisa menangkapnya ketika bola tersebut kembali ke arahnya, sampai bola tersebut jatuh ke tanah dan bergelinding, dan akhirnya terbenam di kolam. Sang putri melihat ke kedalaman mata air tersebut mencari-cari bolanya, tetapi nampaknya bola tersebut telah jatuh ke dasar kolam. Begitu dalamnya sehingga tidak terlihat oleh pandangannya. Sang putri mulai menangis, “Sial! Kalau saja aku bisa mendapatkan bola itu lagi, aku akan memberikan semua pakaian terindahku dan perhiasanku, bahkan segala hal yang aku miliki.”
Sementara dia berkata begitu, kepala seekor katak muncul dari dalam kolam, bertanya kepada sang putri, mengapa dia menangis.
“Sial,” maki sang putri, “apa yang bisa kau lakukan untukku, katak dekil? Bola emasku terjatuh ke mata air.”
Katak itu menjawab, “Aku tidak mengharapkan mutiaramu, dan perhiasanmu, dan pakaian mewahmu; tetapi kalau kau mau mencintaiku, dan mengijinkanku tinggal bersamamu dan makan dari piring emasnmu, juga tidur di ranjangmu, aku akan mengambil bola emasmu untukmu.”
“Ah, omong kosong,” pikir sang putri, “apa yang dibilang oleh katak ini! Dia bahkan tidak akan bisa keluar dari kolam untuk mendekatiku, meski mungkin dia bisa mengambil bolaku kembali. Lebih baik kubiarkan saja dia menyampaikan apa yang dia inginkan.”
Maka sang putri bilang pada sang katak, “Baiklah, kalau kau bisa mengambilkan bolaku, aku akan mengabulkan segala permohonanmu.”
Katak tersebut lalu menenggelamkan kepalanya, menyelam ke kedalaman air; setelah beberapa saat dia muncul kembali, dengan bola emas sang putri di dalam mulutnya, kemudian dilemparnya ke arah tepi kolam.
Segera setelah sang putri melihat bolanya, dia berlari untuk mengambilnya; saking bahagianya mendapati bolanya kembali, sehinga dia tidak ingat lagi tentang si katak. Dia berlari kembali pulang ke istana secepat yang dia bisa.
Sang katak berteriak meminta sang putri untuk kembali, “Tunggu, putri, bawalah aku seperti apa yang kau janjikan.”
Tetapi sang putri tidak berhenti untuk mendengarkan permohonan sang katak.
*
Keesokan harinya, ketika sang putri sedang menyantap makan malam, dia mendengar suara aneh – tap, tap, plas, plas – seperti sesuatu datang melangkah di tangga marmer, dan beberapa saat kemudian terdengar suara ketukan dari arah pintu, dan suara kecil meringis berkata:
“Buka pintunya, putriku sayang,
Buka pintunya untuk cinta sejatimu di sini!
Dan ingat janji yang kita sepakati,
Pada air mancur, di bawah naungan hutan hijau”
Sang putri berlari ke arah pintu dan membukanya, di sana dia melihat si katak yang sebetulnya sudah dia lupakan. Sang putri sangat ketakutan, dia mengunci pintunya secepat kilat dan kembali ke dalam.
Sang raja, ayahandanya, melihat ada sesuatu yang membuat sang putri takut, menanyakan kepada sang putri ada apakah gerangan.
“Seekor katak menjijikkan,” ucapnya, “ada di pintu, dia yang mengembalikan bolaku sewaktu jatuh ke dasar kolam. Aku bilang dia boleh tinggal bersamaku di sini, kupikir dia tidak akan bisa keluar dari kolam tempatnya tinggal; tetapi dia di pintu, dan dia ingin masuk.”
Sementara sang putri masih bercerita, si katak mengetuk lagi di pintu dan berkata,
“Buka pintunya, putriku sayang,
Buka pintunya untuk cinta sejatimu di sini!
Dan ingat janji yang kita sepakati,
Pada air mancur, di bawah naungan hutan hijau”
Sang raja menasihati putrinya, “Karena kau telah berjanji maka kau harus menepatinya; jadi ke sanalah dan biarkan dia masuk.”
Sang putri melakukannya, katak tersebut masuk ke dalam ruanan, lurus ke dalam – tap, tap plash, plash – dari bawah ke arah atas, hingga dia dapat menjangkau tempat sang putri duduk.
“Angkat aku ke kursi,” ujarnya kepada sang putri, “dan biarkan aku duduk di sebelahmu.”
Segera setelah itu, sang kotok berujar, “Letakkan piringmu lebih dekat kepadaku, sehingga aku bisa makan dari sana.”
Sang putri melakukannya, dan ketika si katak telah makan sebanyak yang dia sanggup, dia berujar lagi, “Sekarang aku lelah; bawa aku ke atas; letakkan aku di ranjangmu.” Dan sang putri, meskipun kesal, membawa si katak di dalam tangannya, dan meletakkannya di bantalnya di ranjang tempatnya tidur sepanjang malam.
*
Pada tengah malam, si katak loncat dari ranjang, menuruni tangga, dan keluar dari istana.
“Nah, sekarang,” pikir sang putri, “akhirnya dia pergi, dan aku tidak akan menemukan masalah lagi dengannya.”
Tetapi sang putri salah, di saat malam datang lagi, dia mendengar suara loncatan dari arah pintu dan si katak datang kembali, berkata:
“Buka pintunya, putriku sayang,
Buka pintunya untuk cinta sejatimu di sini!
Dan ingat janji yang kita sepakati,
Pada air mancur, di bawah naungan hutan hijau”
Sang putri membukakan pintu dan si katak masuk, kembali tidur di bantalnya seperti sebelumnya, hingga pagi menjelang. Sampai hari ketiga, si katak masik melakukan hal serupa. Tetapi ketika sang putri terbangun keesokan harinya, dia dibuat kaget, bukannya katak, melainkan seorang pangeran tampan, menatap ke arahnya dengan mata terindah yang baru sekali itu dilihatnya seumur hidupnya, berdiri di bagian atas ranjangnya.
Dia bilang kepada sang putri kalau dia telah dikutuk oleh peri jahat, yang lalu mengubahnya menjadi katak; dan dia telah ditakdirkan tetap seperti itu hingga seorang putri mau mengambilnya dari kolam, dan membiarkannya makan dari piringnya, dan tidur di ranjangnya selama tiga hari.
”Kau,” ucap sang pangeran, “telah menghancurkan kutukan jahat itu, dan kini aku tidak punya permohonan selain kau pergilah bersamaku ke kerajaan ayahmu, aku akan menikahimu, dan mencintaimu sepanjang usiamu.”
Sang putri, tentu saja, tidak menunggu lama untuk berkata ‘iya’ atas permohonan ini. Selama mereka berbicara, sebuah kereta kencana mendekati mereka; dengan delapan ekor kuda yang berhiaskan bulu-bulu dan perlengkapan kuda berwarna emas; di belakangnya sebuah kereta kencana lainnya membawa bawahan sang pangeran, tangan kanan yang begitu setia, yang ikut meratapi nasib buruk sang tuan selama menjalani kutukannya, hingga selama itu hatinya hampir-hampir meledak melihat keadaan sang pangeran.
Mereka kemudian meninggalkan sang raja; dengan kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor kuda. Mereka begitu bersukacita tinggal di kerajaan sang pangeran, di sana mereka hidup bahagia selama bertahun-tahun lamanya.#8:25:56
#
Sumber asli:
http://www.eastoftheweb.com/short-stories/UBooks/FrogPrin.shtml