Filsafat Ilmu 11 August 2009
Posted by michelle in Agama, Antropologi, Arkeologi, Bahasa dan Ilmu Linguistik, Biologi, Filsafat, Fisika, Humaniora, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Sosial, Ilmu Terapan dan Profesi, Kimia, Matematika, Pengetahuan Umum, Sastra, Sejarah, Seni Pertunjukan, Seni Visual, Tata Bahasa Inggris, Tata Bahasa Jepang, Tata Bahasa Prancis, Uncategorized.2 comments
Selasa, 11 Agustus 2009 | 17:07 WIB
Yk, PK5 — Sejak kecil, saya sudah memiliki ketertarikan yang kuat pada banyak hal. Dan ketertarikan saya ini semakin menjadi-jadi setelah saya membaca literatur Mama saya, yakni Filsafat Ilmu. Dalam buku ini saya mempelajari bahwa ada banyak cabang ilmu di dunia ini yang bisa dipilah untuk dipelajari. Dan betapa sayangnya pula, bahwa tidak semua cabang ilmu itu akan kelak bisa kita pelajari di jenjang pendidikan setelah SMA.
Saya akui, semenjak saya membaca Filsafat Ilmu, wawasan saya semakin terbuka. Dari yang tadinya sewaktu SD rajin tidak masuk sekolah (rekor terlama, enam bulan), SMP tidak pernah mendapatkan ranking di atas sepuluh besar, kemudian setelah SMA tiba-tiba menjadi menyabet peringkat pertama terus menerus di kelas dan sempat pula menjadi juara umum di sekolah.
Mungkin saya memang tipe pembelajar yang perlu mengetahui peta garis besar dari suatu bidang, barulah saya bisa mengerti dan memahami apa yang mesti saya lakukan di dalam pembelajaran saya itu. Maka, menemukan buku Filsafat Ilmu yang ditulis oleh Jujun S. Suriasumantri adalah sebuah karunia tersendiri bagi saya.
Meski banyak orang mengatakan, bahwa pikiran yang terlampau kompleks itu tidak baik dan bahwa saya harus fokus pada satu tujuan dengan satu bidang ilmu saja, saya tetap tidak bisa menyingkirkan ketertarikan saya untuk mengetahui seluruh ilmu yang ada dan sedang dipelajari oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Menurut hemat saya, kita mungkin belum bisa menguak proses apa yang sebenarnya terjadi di alam semesta ini, tentang siapa yang sebenarnya menciptakan kita, dan mengapa kita ada di muka bumi ini dengan morfologi yang berbeda dari makhluk lainnya hanyalah karena kita terlanjur mengkhususkan diri pada satu bidang dan jarang mengaitkan lagi ilmu kita dengan ilmu-ilmu yang lain. Bahwa, sebenarnya, menurut saya ada jaring tertentu yang harus kita bangun untuk memiliki persepsi yang utuh dan lengkap tentang alam semesta, tata surya, bumi, dan diri kita sendiri sampai ke molekul-molekul terkecilnya, sampai ke bagian-bagian atomnya.
Oleh karenanya, saya akan terus berusaha mengembangkan ketertarikan saya pada semua hal yang ada di dunia ini. Seperti halnya ketertarikan anak keci yang begitu naif dan menggebu-gebu, seperti pula bayi yang baru terjaga dari tidurnya selama di kandungan ibunya.